Kamis, 18 Oktober 2012

CARA MENGHINDARI GHAZWUL FIKRI


Remaja jaman kiwari dituntut ekstra waspada. Kenapa? Boleh dibilang jalan yang kita tempuh saat ini penuh lubang dan mendaki. Malah nggak jarang menghadapi berbagai rintangan yang bakal menghambat dan mengancam hidup kita. Bila tak hati-hati, rasanya pantas kalo kita jadi korbannya.
Sobat muda, pertarungan ideologi sedang berlangsung di hadapan kita. Bahkan secara tidak langsung kita pun terlibat di dalamnya. Tiga ideologi besar tengah bertempur untuk saling mengalahkan. Islam, kapitalisme, dan sosialisme—termasuk di dalamnya komunisme saling berebut pengaruh. Kita, remaja Islam, dihadapkan pada pilihan yang amat sulit. Nggak jarang kita kebingungan menentukan sikap. Harus bagaimana? Maklum, serangan yang dilancarkan kedua ideologi dunia itu tak selalu berbentuk ‘monster’ yang mengerikan. Sebaliknya malah tampil dengan dandanan yang memikat. Ibarat serigala berbulu domba. Siapa yang terjerat, dialah korbannya.
Kamu bisa liat sendiri faktanya. Ada teman kita yang gandrung dengan gaya hidup idolanya dari Barat. Sebut saja, banyak teman remaja yang ngefans berat dengan boysband asal Amrik dan Eropa; Westlife, Boyzone, Backstreet Boys, dan kawan-kawanya. Teman remaja puteri juga seperti nggak mau kalah. Mereka rame-rame mengidamkan tampil ala Britney Spears, Shakira, Christina Aguilera, atawa Kate Moss. Lewat musik, mereka terbawa gaya hidup Barat. Warna Islam pun mulai pudar dalam menghiasi kepribadian mereka. Celaka!
Sobat muda, inilah yang dinamakan ghazwul fikriy dan juga ghazwuts tsaqafiy (perang pemikiran dan perang kebudayaan). Mengapa Barat menggunakan serangan yang lebih smoot seperti ini? Karena mereka sadar betul, bahwa mengerahkan pasukan tempur untuk berhadapan dengan kaum muslimin, mereka masih trauma dengan kegagalan demi kegagalan pada Perang Salib ratusan tahun silam.
Itu sebabnya, kita ibarat menghadapi musuh yang nggak kentara, alias invisible. Hanya mereka yang punya ‘ilmu’ tinggi saja yang bisa mendeteksi keberadaan musuh tak terlihat itu. Lalu bagaimana agar kita bisa menghadapi serangan mereka?


Pahami ciri-ciri mereka

Kita mulai dengan belajar untuk mengenali dan memahami sepak terjang yang dilakukan musuh-musuh Islam. Ini mutlak dilakukan lho. Sebab, kalo kita nggak ngeh siapa lawan kita, rasanya bakal kesulitan dan kebingungan menghadapinya. Bagaimana cara mengenalinya?
Setiap orang biasanya punya ciri khas. Nah, begitupun dengan ideologi, ada ciri khasnya. Kapitalisme misalnya, punya prinsip “asas manfaat”. Artinya, yang jadi patokan itu bermanfaat secara materi atau tidak. Untung atau rugi. Bukan lagi persoalan halal atau haram seperti dalam Islam. Akibatnya, setiap orang yang mengamalkan atau yang terpengaruh dengan ide ini bakalan berbuat sesuka hatinya—tanpa melihat lagi ajaran agama. Pokoknya bebas nilai deh.
Nah, biasanya ide itu akan tercermin dalam kehidupan sehari-hari dari orang yang mengamalkan atau yang terpengaruh ide ini. Ambil contoh, maraknya bisnis pornografi, pelacuran, dan perjudian adalah karena ada manfaat di sana. Apa manfaatnya? Banyak duit beredar di jalur itu. Makanya nggak pernah diusik. Kalo pun ada masyarakat yang protes, pemerintah pake jurus ATM, alias Aksi Tutup Mata, seolah nggak melihat bahayanya. Ini salah satu akibat lanjut dari prinsip “asas manfaat”. Berbahaya memang.Ciri lainnya, yang sebetulnya masih satu rangkaian, yakni sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan). Pendek kata, kalo sholat kita kiblatnya ke Kabah, tapi dalam kehidupan sehari-hari kiblatnya adalah Amerika atau Eropa. Walhasil, banyak ditemukan remaja yang sholatnya rajin, tapi maksiatnya juga kuat. Itu karena mereka menganggap bahwa kehidupan dunia terpisah dengan aturan agama. Padahal, bagi seorang muslim, di mana pun kita berada, apapun aktivitas kita; baik urusan dunia atau akhirat, wajib selalu merujuk kepada aturan Islam.
Jadi, itu ide pokok kapitalisme. Kalo kamu udah bisa membedakan mana yang berasal dari Islam, dan mana yang bukan, insya Allah bakal selamat. Minimal tidak ikut-ikutan dulu dengan budaya amburadul mereka. Tul nggak?


Jangan malas mengkaji Islam

Ibarat dalam dunia persilatan, selain kita kudu mengetahui jurus khas pendekar lain, lengkap dengan kelemahannya, maka kita pun kudu menempa diri dengan jurus andalan kita. Supaya nggak keteteran kalo berhadapan dengan musuh kita.
Nah, begitupun untuk menghadapi perang pemikiran (ghazwul fikriy) dan perang kebudayaan (ghazwuts tsaqafiy) dari Barat, selain mengetahui gaya hidup dan kelemahan mereka, juga wajib menempa diri dengan tsaqafah Islam. Ini mutlak lho. Apalagi bagi teman-teman yang udah terjun dalam dakwah. Ilmu Islam wajib untuk dimiliki dan dikuasai. Sebab, tanpa ilmu Islam, kita nggak bisa melawan mereka dan juga menyelamatkan kaum muslimin yang lain. Sebab, yang sedang berlangsung sekarang adalah perang pemikiran, maka langkah bijak adalah melawan kembali dengan pemikiran. Lha, kalo kita nggak tahu ilmunya, apa yang mau dijadiin senjata? Tul nggak?
Jadi, mari kita ajak teman untuk meninggalkan budaya jahiliyahnya dengan mengenalkan budaya dan pemikiran alternatifnya, yakni Islam. Kebayang kan kalo ternyata kita sendiri nggak ngerti dengan solusinya. Ada yang nanya dan butuh jawaban, kitanya yang malah bengong. Jangan sampe deh.

 

Taktik bertahan dan menyerang

Ibarat permainan sepak bola, maka kita pun kudu punya taktik. Selain bertahan, kita juga kudu melakukan serangan. Bertahan artinya, jangan mudah tergoda dengan paham-paham dari Barat. Misalnya, paham permisivisme alias paham serba boleh dalam berbuat. Kita jangan tergoda untuk mengamalkanya. Sebab, jelas banget bahwa ide ini bertentangan dengan Islam. Islam mewajibkan bagi setiap Muslim untuk terikat dengan syariat Islam ketika berbuat. Nah, berarti bertahan di sini maksudnya adalah tidak kepincut untuk melakukan perbuatan maksiat.
Untuk melengkapi wawasan, kamu juga bisa deketin tuh temen-temen yang emang udah duluan kenal Islam, kuras semua ilmu dalam dirinya. Selain itu, kamu juga bisa aktif hadir di acara yang bertemakan Islam; entah seminar, pengajian umum, atau di majlis taklim dan masjid. Dan sebagai patokannya, kamu jangan memahami Islam sekadar informasi belaka, tapi kamu kudu jadikan Islam sebagai pemahaman. Artinya, Islam bukan sekadar teori belaka, tapi ada aspek amaliahnya. Bahasa kerennya, Islam kudu dipahami sebagai akidah dan syariat, alias ideologi. Sekali lagi, ideologi.
Insya Allah dengan taktik ini, kita bisa bertahan dari godaan berbagai paham dari Barat. Tapi ingat kawan, bertahan juga ada batasnya. Lama-lama bisa berantakan kalo terus-terusan dibombardir. Iya nggak? Itu sebabnya ada taktik untuk menyerang juga. Kita harus melawan paham ini. Caranya? Kita pahami dulu setiap ide yang berkembang di tengah masyarakat dengan kunti alias tekun dan teliti, lalu kita sikapi dengan sudut pandang Islam. Kalo ide itu rusak, ya kita serang. Yakni menjelaskan kepada masyarakat tentang kebobrokan ide-ide tersebut, baik secara lisan maupun tulisan. Sekuat kemampuan kita. Salam perjuangan dan kemenangan! Wallahu’alam[O. Solihin: sholihin@gmx.net]

0 komentar: